Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Marwan Effendi : Kerjasama RI – AS Menangani Korupsi Besar Manfaatnya

 

WAWANCARA EKSKLUSIF

Jaksa Agung Lantik Tim Satuan Khusus Tindak Pidana Korupsi

 

Jakarta 2/3/2010 (KATAKAMI) Tanpa banyak diketahui publik, sesungguhnya ada jalinan kerjasama yang cukup positif dan signifikan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat dalam hal pemberantasan korupsi.

Bantuan Amerika untuk Kejaksaan RI, terbagi dua dalam skala yang besar yaitu bantuan dana untuk Satgas Anti Terorisme dan Satgas Khusus Pemberantasan Korupsi. Konteks kerjasama antara RI – AS dalam hal pemberantasan korupsi inilah yang  akan dibahas kali ini.

Selasa (2/3/2010) di ruang kerjanya di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata mendapatkan kesempatan WAWANCARA EKSKLUSIF dengan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Marwan Effendi seputar kerjasama RI – AS dalam hal pemberantaan korupsi.

Dan inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Jampidsus Marwan Effendi :

 

 

KATAKAMI (K) : Terimakasih terlebih dahulu Pak Jampidsus atas WAWANCARA EKSKLUSIF ini. Kita semua tahu bahwa Presiden AS Barack Obama akan berkunjung ke Indonesia menjelang akhir bulan Maret ini. Membuka wawancara ini, kami ingin bertanya tentang perkembangan kerjasama antara Indonesia dan Amerika dalam pemberantasan korupsi. Khususnya bantuan dari Amerika kepada Indonesia yang diberikan secara khusus kepada Kejaksaan Agung ?

Marwan Effendi (ME) : Bantuan Amerika antara lain adalah mereka memberikan berbagai perangkat IT untuk melancarkan tugas-tugas Satgas Khusus Pemberantasan Korupsi yang dibentuk Kejaksaan Agung. Kemudian Amerika juga membantu program pelatihan untuk Satgas Khusus ini. Jadi tenaganya dari kita tetapi mereka yang bayar. Lalu bantuan selanjutkan adalah studi banding ke Amerika. Sampai saat ini sudah Angkatan ke-4 yang berangkat ke Amerika yang dibiayai sepenuhnya oleh mereka.

 

(K)  : Bisa dijelaskan lebih rinci soal program Studi Banding ke Amerika itu, Pak JAM ?

 

(ME) : Ya … program studi banding itu pertama kali diberangkatkan tahun 2008.  Manfaatnya banyak sekali. Misalnya, kita melihat ada perbedaan sistem hukum disini dan di Amerika. Teknik penyidikan, teknik pemeriksaan dan sebagainya. Disana, mereka tidak menggunakan berkas perkara tetapi sebatas berbentuk laporan semacam progress report. Nah, dasar progress report itulah yang dibawa ke persidangan untuk didakwakan. Tidak seperti kita, dakwaan itu sampai banyak sekali halamannya. Mereka cukup dengan lisan saja dakwaannya. Mereka lebih praktis & sistematis.

(K) : Sehingga kalau diambil hikmah atau manfaatnya untuk diterapkan disini, apa saja keuntungan dari studi banding ke Amerika untuk para jaksa satuan khusus anti korupsi kita ?

 

(ME) : Manfaatnya banyak sekali.  Kita bisa tiru hal-hal baik yang mereka terapkan dalam pemberantasan korupsi.  Disana, satu orang Jaksa bisa menyelesaikan 5- sampai 60 perkara dalam satu bulannya. Sedangkan kita, satu bulannya paling banter hanya bisa menyelesaikan 4 perkara korupsi saja. Jadi terlalu jauh perbedaannya kinerja jaksa kita dengan jaksa di Amerika. Ada kesenjangan. Mereka lebih praktis sistem kerjanya. Disana, terlihat dengan jelas kerjasama polisi dan jaksa dalam menangani korupsi sangat terintegrasi. Dari mulai proses penyidikan sampai ke tahap pelaksaan eksekusi. Bahkan dalam pelaksanaan persidangan, polisi disana banyak sekali membantu. Dari mulai menghadapkan para saksi dan barang bukti yang memang dibutuhkan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Nah, ini yang tidak ada di Indonesia.

 

 

Photo : Jaksa Agung melantik Tim Satuan Khusus Tindak Pidana Korupsi (6/6/2008)

 

(K) : Satgas khusus itu nama lengkapnya apa ya Pak ?

 

(ME) : Satuan Khusus Penyidikan Penanganan Perkara Korupsi.

(K) : Berapa orang yang sudah berangkat ke Amerika sejak tahun 2008 sampai saat ini ?

 

(ME ) : Ada sekitar 36 orang yang sudah berangkat. Dan jika digabungkan dengan angkatan ke-4 yang berangkat ke Amerika, total ada 48 orang yang sudah berangkat. Setiap kali mengirimkan jaksa untuk studi banding, kami mengirimkan 12 orang per angkatan untuk pergi ke sana.

 

Photo : Kunjungan Jaksa Agung AS Michael B. Mukasey ke Indonesia (9/6/2008)

 

 

(K) : Bantuan Amerika berupa pelatihan dan studi banding ini, apakah memang sangat dirasakan manfaatnya oleh Kejaksaan Agung ?

(ME) : Oh ya jelas, itu sangat membantu ! Kami merasakan sekali manfaatnya. Terutama dalam pelatihan-pelatihan itu. Jadi bentuk pelatihan itu, kita mengundang pakar-pakar kita di Indonesia tetapi yang membiayai adalah mereka. Terkadang, diundang juga pakar-pakar Amerika dan pakar-pakar Belanda. Misalnya, dibahas bagaimana sistem pemeriksaan yang baik, bagaimana cara pelacakan aset-aset yang baik, banyaklah.

(K) : Jadi apa lagi yang diharapkan Kejaksaan Agung saat ini dalam hal kerjasama pemberantasan korupsi dengan pihak Amerika Serikat ini ?

 

(ME) : Kerjasama ini tetap berjalan untuk ke depan ini. Dan bantuan mereka kalau bisa ditingkatkan lagi nomimalnya. Dan jaksa-jaksa kita yang bisa diberangkatkan ke Amerika dan yang mengikuti pelatihan, bisa ditingkatkan juga jumlahnya. Sebab itu sangat berguna sekali.

(K) : Satuan Khusus Penyidikan Penanganan Perkara Korupsi tadi, sejak mengikuti studi banding ke Amerika dan mengikuti berbagai bentuk pelatihan, apakah memang ada perbedaannya ke arah yang lebih baik dari segi kemampuan mereka menangani perkara-perkara korupsi ?

 

(ME) : Ya jelas ada. Sangat membantu. Ada peningkatan yang sangat tajam dari segi kemampuan jaksa kita. Dari mulai kemampuan mereka melakukan penyidikan, penuntutan sampai ke tahap menyelamatkan aset-aset negara yang dijarah oleh para koruptor itu.

(K) : Maksudnya, angka penanganan korupsi yang dihasilkan Satuan Khusus Anti Korupsi ini, memang sangat nyata hasilnya ya ?

 

(ME) : Lho, luar biasa peningkatannya. Kenaikannya 3 kali lipat, sebelum ada Satuan Khusus dibentuk. Sebelum Satuan Khusus ini dibentuk, pada tahun 2007 saja penanganan korupsi hanya sekitar 500-600 perkara. Tetapi setelah dibentuk Satuan Khusus, tahun 2008 penanganan korupsi di Gedung Bundar meningkat menjadi 1336 perkara. Dua kali lipat lebih. Tahun 2009, 1606 perkara. Begitu juga dalam hal penuntutan. Jadi kembali lagi seperti yang sudah saya sampaikan, kita berharap kerjasama ini bisa terus dilanjutkan dengan pihak Amerika Serikat sebab manfaatnya memang sangat besar untuk para jaksa di Indonesia.

 

(K) Baik, terimakasih Pak Jampidsus untuk wawancara ini.

(MS)

 

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: